Menu:

 

TIPS ICW

Artikel (Aplikasi | Multimedia | Ulasan | Lain-lain) - Tips

Mempertimbangkan Penggunaan Multimedia di dalam Kebaktian

Tanggal: 2011-12-01
Kategori: Multimedia

Ketika saya menjadi seorang pembuat video perusahaan, seorang akuntan pernah meminta kami membuat video tentang undang-undang perpajakan. Ia berpendapat bahwa video adalah sebuah teknologi canggih. Menampilkan sebuah video sewajarnya akan membuat materi yang disampaikannya menjadi dinamis dan relevan bagi pemirsa. Yang harus kami lakukan adalah menaruh beberapa hal yang berkaitan dengan presentasi verbalnya tentang undang-undang perpajakan di layar dan kami akan melihat video yang terkesan dipaksakan. Saya menanggapi klien ini dengan berkata, "Mari kita bicarakan kebutuhan komunikasi Anda terlebih dahulu, lalu kita cari bagaimana video dapat menjawab kebutuhan tersebut." Bahkan, jika kami membuat sebuah animasi 3-D mahal tentang logo pajak yang mengambang dan logo mata uang yang meliuk-liuk, hal itu akan sia-sia jika tidak menolong pemirsa memahami undang-undang perpajakan. Kita perlu menyesuaikan video dengan tujuan bisnis klien.

Persoalan serupa tentang tujuan dan komunikasi dihadapi para penyusun liturgi yang berharap dapat memakai teknologi video dalam kebaktian. Penayangan video dalam kebaktian perlu disesuaikan dengan tujuan kebaktian.

Konsep dasarnya adalah bahwa media visual tidak digunakan dalam kebaktian hanya untuk menekankan gagasan dan membuat kebaktian lebih menarik, tetapi untuk menyampaikan lebih jauh maksud setiap sesi dalam kebaktian. Gambar-gambar yang dibuat untuk kebaktian harus dirancang untuk membantu menuntaskan tujuan setiap sesi kebaktian.

1. Sebelum Kebaktian Dimulai.

Pertimbangkan sesi permulaan, misalnya. Apa yang sebaiknya muncul di layar ketika jemaat berdatangan dan menempati kursi mereka? Pengumuman atau petunjuk mencari tempat duduk? Pertanyaan-pertanyaan ini perlu didahului dengan pertanyaan-pertanyaan kunci seputar perumusan tujuan sesi permulaan. Apa yang seharusnya dilakukan jemaat dalam sesi ini? Apa tugas liturgis mereka? Ke mana seharusnya fokus perhatian mereka? Jika kita mengartikan sesi permulaan, misalnya, sebagai waktu untuk mempersiapkan hati kita untuk bertemu Allah di dalam persekutuan iman, media video kita seharusnya dibangun di atas tugas persiapan itu.

Hanya dengan cara demikian kita melangkah untuk menjawab pertanyaan spesifik tentang apa saja yang sebaiknya muncul di layar. Jika musik pengantar didasarkan pada lirik pujian, barangkali Anda harus menampilkan lirik tersebut. Anda juga bisa menampilkan kidung pengagungan, atau karya seni klasik tentang perjumpaan ilahi, atau tema dan bacaan Alkitab untuk hari itu, atau serangkaian pertanyaan terarah yang akan menolong jemaat menyiapkan hati mereka. Terkadang Anda mungkin memilih untuk menekankan persekutuan atau aspek komunitas dari kebaktian, mungkin dengan gambar-gambar gereja dari masa ke masa, atau tentang masa penuaian.

Yang kurang tepat adalah gambar-gambar yang tidak berfokus pada fungsi persiapan dan persekutuan. Pengumuman tentang perjamuan kasih Rabu malam atau rangkaian foto tentang kebaktian padang komisi pemuda, misalnya, kurang berhubungan dengan persiapan kebaktian, walaupun hal itu mungkin cocok untuk sesi lain dalam kebaktian.

2. Sesi Persembahan.

Pertimbangkan juga sesi persembahan. Sesi ini bukanlah sekadar cara pengumpulan uang untuk membayar kebutuhan gereja dan program-programnya, namun lebih daripada itu. Persembahan adalah respons ucapan syukur jemaat secara aktif dengan memberikan hidup untuk melayani. Persembahan diri ini dilambangkan dalam pemberian uang persembahan. Dengan demikian, multimedia harus berperan untuk menekankan fungsi respons tersebut. Tampilan di layar seharusnya mendorong jemaat untuk memberi hidup untuk melayani. Inilah peluang tepat untuk pengumuman-pengumuman tentang perjalanan misi, sukarelawan pengasuh anak, kelompok doa, dan bentuk lain pemuridan. Anda juga bisa menampilkan teks Kitab Suci yang mengajak kita untuk menghasilkan buah. Atau menampilkan teks kitab Suci atau lirik lagu musik instrumental yang dialunkan saat persembahan. Sama halnya, jika persembahan akan diberikan kepada pelayanan tertentu, akan tepat untuk menampilkan foto-foto atau informasi seputar upaya kelompok tersebut dalam membangun kerajaan Allah. Lagi-lagi, titik awal untuk tampilan layar adalah tugas yang diberikan dalam liturgi.

3. Kegunaan dan Keindahan.

Semua hal di atas mengasumsikan bahwa liturgi dibuat untuk suatu tujuan. Setiap unsur dalam kebaktian penyembahan adalah tindakan penyembahan yang dilakukan dengan sengaja. Memahami tujuan setiap unsur adalah prasyarat untuk merancang media dalam mendukung tugas jemaat.

Mengembangkan media tanpa fokus khusus akan menghasilkan gambar-gambar yang indah, namun tidak tajam terarah. Lebih baik menciptakan media yang sederhana, namun tepat daripada sebuah karya canggih namun tidak tepat sasaran. Sebuah video musik berirama cepat mungkin menarik disimak dan sangat alkitabiah, namun jika gagal terhubung dengan liturgi, video itu tidak sesuai dengan tujuannya. Singkatnya, jika tidak tumbuh dari tugas penyembahan secara khusus, media hanyalah sekadar hiburan agamawi dan pengalihan perhatian dari penyembahan sejati. (t/Dicky)

Diterjemahkan dari:

Nama situs: (CRCNA)
Alamat URL: http://network.crcna.org/content/worship/
Judul asli artikel: First Things First: Considering Multimedia in Worship
Penulis: Steven Koster
Tanggal akses: 29 September 2011
Tinggalkan komentar Anda...

ke atas


Kontak ICW: icw@sabda.org
Berlangganan publikasi: subscribe-i-kan-icw@hub.xc.org
Direktori Situs Kristen LINKs: http://www.in-christ.net/links
Facebook ICW: http://fb.sabda.org/icw Twitter ICW: @sabdaicw

 

Kontak kami | FAQ | Disclaimer | Buku Tamu | Yayasan Lembaga SABDA (YLSA) | © 2000-2018
Bank BCA Cabang Pasar Legi Solo - No. Rekening: 0790266579 - a.n. Yulia Oeniyati
Laporan Masalah/Saran | E-mail: webmaster@sabda.org